Rabu, 04 Maret 2015

MENGENANG KH ISHAQ LATHIEF "Yai Kak": Sosok Kyai Zuhud, Sederhana, dan Istiqamah (bagian-3; habis)

Oleh : Lora H. Fawaid Abdullah
Pada bagian ini, saya sengaja menampilkan beberapa foto kenangan beliau romo Yai dan beberapa foto lain baik beliau sewaktu masih hidup, dan beberapa foto sedang proses menuju pemakaman dan dalam proses pemakaman berlangsung serta saya tampilkan juga ada beberapa foto ketika Gus Mus (KH Musthofa Bisri rembang sedang menjenguk Mbah Yai Muchid Muzadi, salah satu kyai sepuh NU yang udzur sakit). Setidaknya kita semua yang masih muda-muda bisa meneladani beliau beliau ini.
Kalau kita teliti lebih jeli, ada dokumentasi foto ini; betapa Beliau Yai kak sedang bersalaman dengan pengasuh Pesantren Tebuireng Gus Solah, ini suatu bukti prilaku akhlaq yang sama sekali tidak dibuat-buat, betapa beliau "sungkem" dan tawadhu` kepada dzurriyah Pesantren Tebuireng, dzurriyah Hadrotussyaikh Hasyim Asy’ari. Walau Yai Kak secara umur dan mungkin disiplin ilmu yang lain "melebihi", tetapi ketawadhu`an dan sikap akhlaq kepada dzurriyah Hadrotussyaikh sebagai guru beliau adalah hal lain. Inilah bukti bahwa beliau seorang yang sangat menghormati nilai-nilai kesantunan sesuai dalam kitab Ta`lim al Muta`allim, dan Kitab Adaab al `Aalim wal Muta`allim-nya Hadrotussyaikh Mbah Hasyim Asy`ari.

Minggu, 01 Maret 2015

MENGENANG KH ISHAQ LATHIEF "YAI KAK"; Kyai Zuhud, Sederhana dan Istiqamah (bagian-2)

oleh : Lora H. Fawaid Abdullah*

Tulisan saya sebelumnya lebih bersifat general terkait kezuhudan, kesederhanaan dan keistiqamahan KH. Ishaq Latief. Dalam tulisan ini saya akan memaparkan bukti-bukti lebih nyata bahwa beliau memang sangat layak mendapatkan predikat itu, tentunya menurut perspektif saya secara pribadi. Ketika nyantri, saya memang tidak sedekat sahabat alumni atau santri yang lain kala itu, seperti senior saya, Mas Cholidy Ibhar dekade 70-an, atau teman saya yang lain dekade 80-an bahkan 90-an. Saya memang berusaha tidak "terlalu" mendekat kepada Beliau, karena ada beberapa alasan yang saya pegang kuat, terkait dengan tradisi akhlak santri di Madura.

Di dalam tradisi bahkan akhlaq santri kepada kyai/gurunya di Madura memang mempunyai ciri dan kekhasan tersendiri. Seorang santri bahkan sangatlah tawadhu`. Saking tawadhu`nya, ketika ada kyainya lewat, bahkan dalam jarak yang cukup jauh, maka si santri akan buru-buru menundukkan kepala. Bahkan dalam jarak tertentu sandal santri harus dilepas sebelum santri menghadap sang kyai. Tradisi dan akhlaq keseharian pesantren Madura memang lebih punya kekhasan sendiri. Inilah yang membuat saya sungkan dan tidak mendekat kepada beliau seperti teman sebaya kala itu.

Sabtu, 28 Februari 2015

Penari India Pentas di Tebuireng

suaratebuireng – Demam India melanda masyarakat. Setelah beberapa tayangan India yang hadir di layar kaca akhir-akhir ini, rencananya sekelompok penari India akan pentas di Tebuireng, hari Selasa (03/03) mendatang. Pementasan yang bertajuk “Bhangra Folk Dance dari India” itu menghadirkan para penari Bhangra dari India dan diselenggarakan pukul 09.00 WIB di Lapangan Masjid Ulil Albab Tebuireng.

Perwakilan dari Konsulat Jenderal India di Bali, Manoj Baht kepada Suara Tebuireng mengatakan, tarian Bhangra adalah tarian khas India dengan irama menghentak, rancak dan untuk menyebarkan semangat. “Tidak hanya sekedar yang ada di tayangan televisi saat ini. Tarian rakyat India juga banyak, selain itu saya melihat kebudayaan India dan Indonesia memiliki kesamaan,” tutur pria berbadan tegap itu.