Minggu, 29 Maret 2015

Mata Penakluk : Novelisasi Kehidupan Gus Dur

suaratebuireng – Kisah hidup Gus Dur diceritakan dalam sebuah novel berjudul Mata Penakluk: Manakib Gus Dur yang dibedah di Gedung Yusuf Hasyim Lt. 2 Pesantren Tebuireng, Jumat (27/03). Bedah buku yang dihadiri lebih dari 100 peserta itu menghadirkan Abdullah Wong, penulis buku Mata Penakluk.

Novel Mata Penakluk: Manakib Gus Dur tersebut menceritakan kehidupan Gus Dur secara lebih utuh pada masa kecil dan remaja. Beberapa kisah dalam novel tersebut merupakan informasi yang hanya sedikit orang yang mengetahuinya.

Rabu, 04 Maret 2015

MENGENANG KH ISHAQ LATHIEF "Yai Kak": Sosok Kyai Zuhud, Sederhana, dan Istiqamah (bagian-3; habis)

Oleh : Lora H. Fawaid Abdullah
Pada bagian ini, saya sengaja menampilkan beberapa foto kenangan beliau romo Yai dan beberapa foto lain baik beliau sewaktu masih hidup, dan beberapa foto sedang proses menuju pemakaman dan dalam proses pemakaman berlangsung serta saya tampilkan juga ada beberapa foto ketika Gus Mus (KH Musthofa Bisri rembang sedang menjenguk Mbah Yai Muchid Muzadi, salah satu kyai sepuh NU yang udzur sakit). Setidaknya kita semua yang masih muda-muda bisa meneladani beliau beliau ini.
Kalau kita teliti lebih jeli, ada dokumentasi foto ini; betapa Beliau Yai kak sedang bersalaman dengan pengasuh Pesantren Tebuireng Gus Solah, ini suatu bukti prilaku akhlaq yang sama sekali tidak dibuat-buat, betapa beliau "sungkem" dan tawadhu` kepada dzurriyah Pesantren Tebuireng, dzurriyah Hadrotussyaikh Hasyim Asy’ari. Walau Yai Kak secara umur dan mungkin disiplin ilmu yang lain "melebihi", tetapi ketawadhu`an dan sikap akhlaq kepada dzurriyah Hadrotussyaikh sebagai guru beliau adalah hal lain. Inilah bukti bahwa beliau seorang yang sangat menghormati nilai-nilai kesantunan sesuai dalam kitab Ta`lim al Muta`allim, dan Kitab Adaab al `Aalim wal Muta`allim-nya Hadrotussyaikh Mbah Hasyim Asy`ari.